KUE SUBUH SENEN

Info Perkembangan Pasar, Produk, Bahan Kue, Mesin dan Kebijakan

SEJARAH PASAR KUE SUBUH SENEN

Posted by martinus66 on December 2, 2007

Pasar kue subuh senen berkembang secara bertahap mulai :

Tahun 1793

Justinus Cornellis Vincke mendirikan pasar di sekitar istana Weltevreden (Lokasinya kini menjadi Rumah Sakit Angkatan Darat), disamping  pasar Tanah Abang.  Pada saat itu pasar yang dekat istana ini hanya dibuka pada hari Senin sehingga masyarakat menyebutnya pasar Senen, disamping sebutan sebagai Vincke passer.

Tahun 1795

Vincke membangun sebuah jalan yang membujurdari timur ke barat yang menghubungkan pasar Senen dan pasar Tanah Abang sehingga disebut juga jalan Prapatan.

Tahun 1900-an

Kawasan Senen mulai menggantikan kota sebagai pusat militer dan pemerintahan.

Tahun  1945-an

Kawasan Senen semakin padat karena arus migrasi besar-besaran setelah kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1960-1970

Pemerintah Jakarta Raya mendirikan gedung pasar Senen, pasar Inpres dan terminal bus.

Tahun 1987-1992

Atrium senen dibangun yang menyediakan fasilitas perkantoran, hotel, rumah toko dan shopping centre.

Tahun 1998-2005

Sejak terjadi krisis moneter di Indonesia, berkembanglah sektor informal sehingga pasar Senen kehilangan daya tariknya.

P.S. Sumber : Suara Pembaruan

Posted in makanan | Leave a Comment »

KEGIATAN PPKS

Posted by martinus66 on December 1, 2007

SEMINAR-BAKING DEMO HOTEL ASTON 2007

Rose Brand menggelar demo masak kue oleh Lenny Limiyati.

Rose Brand menggelar demo masak kue oleh Lenny Limiyati.

29/09/2007 13:49 Advertorial
Demo Memasak Kue Ala Rose Brand

Liputan6.com, Jakarta: Lebih dari tiga dekade Rose Brand menghadirkan produk-produk berkualitas seperti tepung beras, tepung ketan, tepung tapioka, bihun, minyak goreng, dan gula cair. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, produk Rose Brand juga menjadi andalan para pengusaha jasa boga.

Sebagai bentuk apresiasi, Rose Brand menggelar demo memasak kue bertajuk Variasi Bentuk Kue Untuk Menyiasati Kenaikan Harga di salah satu hotel berbintang Jakarta, Sabtu (8/9). Mereka mengundang peserta yang terdiri dari 150 pedagang kue subuh di Pasar Senen, Jakarta Pusat, dan Pasar Blok M, Jakarta Selatan.

Dalam acara yang berlangsung sehari itu, beragam informasi diberikan seputar cara memasak yang praktis dan ekonomis. Rose Brand menyajikan aneka macam resep kue terbaru dengan menghadirkan Lenny Limiyati. Ia adalah salah seorang maestro kue Tanah Air sekaligus pemilik Nessa Bakery and Backing Course yang kini berdomisili di Bandung, Jawa Barat.

“Saya dan Nyonya Liem, mertua saya selalu menggunakan tepung ketan dan tapioka Rose Brand sejak 1970. Kualitas produk Rose Brand memang terjamin,” ujar Lenny memuji keunggulan Rose Brand.

Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut dan mengaku memperoleh banyak manfaat. Salah satunya Rulita. Pedagang kue subuh di Pasar Senen ini mengatakan mendapat pelajaran baru membuat kue kering dari demo itu. “Padahal saya biasanya membuat dan menjual kue basah,” kata Rulita yang menggunakan tepung ketan Rose Brand selama 20 tahun.

Manfaat serupa dirasakan Musyarif, peserta demo lainnya. Menurut Ketua Asosiasi Pedagang Kue Subuh Pasar Blok M Melawai ini, demo memasak Rose Brand bisa menambah kreativitas dan wawasan. “Kita juga mengetahui cara membuat kue yang higienis dan berguna bagi masyarakat,” kata Musyarif.

Sejauh ini sebagian besar masyarakat sudah mengakui kelebihan produk Rose Brand. Karena itu, Rose Brand tetap konsisten mendukung berbagai kegiatan masyarakat. Ini sejalan dengan komitmen Rose Brand menghasilkan pangan Nusantara yang sehat, berkualitas, dan menguntungkan.(RMA/Tim Usaha Anda)

Rose Brand
Sungai Budi Group
Wisma Budi Lantai 8-9
Jalan H.R. Rasuna Said Kavling C-6
Jakarta 12940
Telepon: (021) 521 3383 Faksimili: (021) 521 3282

Posted in makanan | Leave a Comment »

PASAR KUE SUBUH SENEN

Posted by martinus66 on December 1, 2007

Suasana di Pasar Kue Subuh Senen

Jakarta..Oh..Jakarta..seakan tak pernah mati. Dari mulai pagi, siang, petang, hingga malam, keramaian dipastikan dapat ditemukan di pusat-pusat kota maupun sudut-sudut kota. Bahkan hingga subuh sekalipun!

Salah satu gambaran menarik dari keadaan subuh kota Jakarta adalah apalagi kalau bukan Pasar Kue Subuh! Kala mayoritas masyarakat Jakarta masih terlelap dalam mimpi indah, sebagian masyarakat lain sudah sibuk bertransaksi dagang. Bukan hanya dagang sayur-mayur, buah, atau daging seperti yang sering kita lihat, namun kue-kue pun juga.

Ingin mencari kue-kue lezat dalam jumlah banyak dengan harga miring? Kue tart? Kue tradisional? Kue modern? Pasar Kue Subuh jawabannya! Memang butuh pengorbanan untuk bangun pagi-pagi, namun pengorbanan terbayar dengan tersedianya (hampir) seluruh jenis kue, murahnya harga kue, namun tetap dengan kualitas yang cukup oke! Semakin banyak kue yang dibeli, maka kemungkinan kortingan harga juga semakin besar!

Sepanjang sejarah, Jakarta memiliki dua pasar kue subuh yang sudah terkenal sejak dulu, yakni Pasar Kue Subuh Blok-M dan Pasar Kue Subuh Senen. Namun, dalam perkembangannya, kini mulai bermunculan pasar-pasar kecil dengan konsep hampir semua pedagangnya menjual kue-kue di waktu subuh. Dalam artikel edisi ini, kami hanya mengekspos tiga tempat pasar kue subuh. Bagi yang belum terekspos, maaf-maaf saja..Di lain kesempatan akan kami ekspos..:)

Blok M
Memasuki kawasan Blok M, hingar bingar restoran dan klub-klub malam mulai berakhir di kala pagi mulai menjelang dan digantikan oleh hiruk pikuk para penjual kue. Jangan kira kalau subuh-subuh nggak ada pembeli, justru ramai! Apalagi kalau hari libur! Lautan manusia serasa berbaur dengan lautan kue!

Apa saja kuenya? Banyak! Dari mulai kue tart buat ulangtahun, buat kawinan (bisa pesan dulu), kue-kue tradisional, puding, pie, sampai pempek. Risoles? Lemper? Pastel? Uh, ribuan jumlahnya! Jangan takut kehabisan karena penjualnya banyak banget! Jangan takut salah pesan, soalnya si penjual kadang membolehkan kita mencicipi rasa kuenya. Penjualnya kadang merekomendasikan kue-kue apa yang enak atau yang sedang ‘in’.

Selain kue-kue, tersedia pula makanan jenis lain seperti ayam bakar, ayam goreng, dan pepes ikan. Kios-kios yang menyediakan makanan untuk sarapan juga ada, seperti lontong sayur maupun bubur ayam. Setelah puas belanja kue, kini waktunya mengisi perut!

Harganya? Cukup terjangkau! Untuk kue-kue, bahkan ada yang harganya dimulai dari Rp. 350 perak! Yah, sama seperti Anda mau beli baju, pintar-pintarlah menawar. Namun, agak hati-hati nih di sini. Pasalnya, kawasan pasar tersebut cukup nyampur  dengan jalan dan parkiran kendaraan bermotor. Makanya jangan asal bengong di tengah jalan sini. Ya, maklum sih kalau pagi-pagi buta masih ngantuk.

Senen
Nggak kalah dengan yang di Blok M, kue-kue di Senen juga tak kalah lengkapnya! Coba datangi kawasan ini pagi-pagi buta! Hampir bisa mengalahkan demonstrasi mahasiswa di istana negara..hehe..Umumnya, yang ke sini membeli kue-kue dalam jumlah besar. Ada yang untuk keperluan pesta atau memang untuk dijual kembali.
Untuk urusan harga, seperti biasa, semakin borongan tentu semakin murah. Range harga pun beranekaragam. Dari mulai Rp. 500-an, Rp. 1.000-an, bahkan Rp. 20.000-50.000-an untuk kue tart.

Sama halnya dengan di Blok M, pedagang kue di sini juga membolehkan pengunjung untuk meng-icip-icip beberapa kuenya, supaya percaya rasa dan kualitasnya. Hmm..siapa yang nggak menolak melihat kue-ke mungil nan cantik serta menggugah selera?

“Gue sih biasanya kalau jogging tiap pagi, suka ke sini. Apalagi kalau baru gajian. Langsung deh ngeborong kue-kue walaupun nggak ada acara juga.” cerita Asti. “Mau sekedar cuci mata pun nggak mungkin bisa, perut pun jadi ikut-ikutan lapar, pasti beli deh kue-kuenya kalau ke sini!” cerita Vino, yang sering menemani Ibunya berbelanja kue di pasar kue Subuh Senen.

Bintaro
Bintaro juga tidak ketinggalan. Kini, setiap Minggu subuh, aktivitas di kawasan Bintaro Trade Centre terlihat ramai. Rupanya, pasar kue subuh sedang ‘in’ di situ! Awalnya memang hanya beberapa pedagang saja. Namun, lama-lama, karena cepat ludesnya dagangan beberapa pedagang itu, akhirnya membuat orang-orang lain tergiur untuk berdagang kue di situ. Aneka jenis kue yang ditawarkan pun kurang lebih sama dengan yang di Blok M ataupun di Senen. Jelas saja, sebab konon pedagang-pedagangnya juga dari komunitas pedagang kue subuh Senen. Range harganya pun juga tidak beda jauh. 

“Buat gue yang tinggal di daerah Bintaro, keberadaan kue subuh di sini cukup membantu! Soalnya keluarga gue cukup sering ngadain acara keluarga hari Minggu. Jadi mau beli kue-kue nggak perlu jauh-jauh ke Blok M lagi!” komentar Rista, salah seorang mahasiswi yang aktif ikut Ibunya berbelanja kue subuh.

Untuk soal kue-kue dan makanan ringan, temanmakan.com tetap merekomendasikan pasar kue subuh sebagai lahannya. Efektif dan efisien! Semua jenis kue tersedia untuk berbagai acara dengan harga yang miring. Cuma, nih..yah ada yang sedikit meng-ilfilkan..Kalau lalat-lalat kecil sudah mulai nempel ke kue yang ini dan yang itu, rasanya jadi nggak napsu beli. Jadi, make sure kalau kue yang Anda beli itu bebas dari serbuan lalat-lalat itu. Minta kue-kue yang baru (yang belum di-display) juga bisa!Hmm..bicara soal bisnis, jangan kaget kalau para pedagang kue subuh itu setiap bulannya bisa untung berjuta-juta! Meskipun Jakarta adalah kota metropolitan, keberadaan pasar kue subuh itu sendiri adalah suatu kebutuhan masyarakat. Makanya, tidak heran kan kalau pasar kue subuh ini sangat diminati masyarakat. Wuih..tertarik untuk ikut berbisnis?

Transaksi di Kala Embun Turun

BE Julianery

Subuh belum datang. Langit Jakarta pukul dua dini hari masih hitam pekat, kontras dengan terang benderangnya lokasi parkir di Blok III dan IV, serta lorong Blok II Pasar Senen yang semarak oleh cahaya neon.

Ratusan orang, tua-muda, laki-laki dan perempuan, bertransaksi di tempat itu. Ini adalah kesibukan jual-beli aneka penganan tradisional, suatu corak usaha rakyat yang dimungkinkan berkembang oleh kota besar seperti Jakarta.

Di bawah tenda dan di sepanjang lorong, di atas 280 meja— masing-masing berukuran 110 x 60 cm—para pedagang ini menggelar beraneka jenis kue produk rumahan dengan beragam rasa.

Ada penganan berbungkuskan daun pisang seperti lemper dan lontong. Ada pula yang hanya beralaskan daun itu, seperti kue ku dan klepon. Yang lain, seperti kue cantik manis dan semar mendem, terbungkus dalam plastik tipis. Juga ada kue yang “telanjang” tanpa kemasan, seperti bika ambon, pastel, risoles, maupun onde-onde. Bagaimanapun bentuk, warna, dan rasa kue itu, satu hal sudahlah pasti, semuanya menerbitkan liur.

“Pasar Kue Subuh”, demikian julukan tempat ini. Kue basah dan kering di situ dijual eceran dan partai. Bagi para penjual penganan, “Pasar Kue Subuh” ibarat pasar induk. Kue yang berasal dari tempat ini tak hanya tersebar ke seantero Jakarta, tapi juga mengisi kebutuhan orang di Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok. Bahkan, penganan ini juga dibawa ke Karawang, 2 jam perjalanan—pada saat lalu lintas lancar sebelum matahari terbit—dari Jakarta.

Adalah pemilik kantin dan pedagang jajanan pasar yang umumnya jadi pembeli. Biasanya satu pembeli memborong 500 hingga 1.000 potong kue yang rata-rata harganya sekitar Rp 400 dan menjualnya lagi 1,5 sampai 2 kali lipat dari harga beli. Juga ada perusahaan jasa boga yang berbelanja ke “Pasar Kue Subuh” untuk melayani pesanan buat pesta pernikahan, acara kantor, seminar, ataupun pesta ulang tahun. Selain itu, tidak sedikit pula pembeli yang datang ke sana buat membeli makanan kecil yang akan disajikan dalam acara di rumah sendiri.

Berawal pada tahun 1983 dengan pedagang yang jumlahnya tidak melebihi hitungan jari di tangan, kini tempat itu menampung sekitar 600 pedagang. Selain di Blok III—yang lokasinya paling strategis—pedagang kue tradisional ini juga menempati area parkir Blok IV dan lorong di depan toko-toko di Blok II dengan area seluruhnya 1.086 meter persegi.

Area parkir Blok III, yang terluas, menampung pedagang paling banyak.

“Kue Subuh” adalah suplai yang muncul karena adanya kebutuhan. Kendati Jakarta menyandang predikat kota metropolitan, sebagian besar masyarakat yang tinggal di Ibu Kota adalah orang yang tak pernah lepas dari tradisi. Penduduk kota memiliki beragam acara—lamaran pernikahan, nujuh bulan, arisan, temu keluarga, pesta ulang tahun dan pengajian—yang memerlukan penganan. Irama kehidupan yang menuntut berbagai kemudahan di tengah kesibukan, membuat warga Jakarta tidak lagi punya waktu untuk memasak sendiri penganan di dapur. Itulah yang memungkinkan usaha “Kue Subuh” tumbuh.

Meski “hanya” dari kelas sektor informal, pembuatan dan perdagangan kue tradisional ini menjadi gantungan hidup belasan ribu orang. Sekitar 600 pedagang di Senen itu masing-masing mempekerjakan 10 hingga 20 orang. Salah seorang pedagang kue besar di situ memiliki sekitar 300 pekerja.

Omzet perdagangan kue itu sendiri menggiurkan. Setiap bulan, paling sedikit seorang pedagang mengantongi keuntungan bersih Rp 8 juta. Bahkan, ada yang mendapatkan penghasilan lebih dari Rp 16 juta.

Pembuat dan pedagang kue di situ telah melakoni usahanya minimal lima tahun. Beberapa di antaranya bahkan telah berjualan sekitar 20 tahun. Sebagian besar dari mereka membuat sendiri kue itu di rumahnya dan mengangkutnya ke lokasi perdagangan dengan mobil pribadi pada malam hari. Umumnya mereka menggunakan mobil boks, lengkap dengan merek produknya yang diterakan di dinding mobil, misalnya “Maharani Cake”.

Menurut John Ronny, salah seorang pengurus Persatuan Pedagang Kue Subuh Senen (PPKSS), masing-masing pedagang setiap hari membayar retribusi tempat Rp 2.500/meja dan retribusi keamanan Rp 1.500/meja.

Jika ada 170 meja di Blok II, 284 meja di Blok III, dan 203 meja di Blok IV, jumlah retribusi per hari mencapai Rp 2,6 juta atau Rp 78,8 juta per bulan. Hasil retribusi ini digunakan pengelola pasar untuk membayar biaya listrik, petugas keamanan, kebersihan, dan staf pasar di masing-masing blok.

“Pasar Kue Subuh” menawarkan kemudahan bagi warga Ibu Kota yang sibuk, menjadi pasar induk untuk penganan, dan menyediakan lapangan kerja. Jakarta memberikan kemungkinan hidup untuk usaha sektor informal dengan omzet puluhan juta rupiah, lewat transaksi yang berlangsung ketika embun turun ke bumi.

(BE Julianery/ Litbang Kompas)

Posted in makanan | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.